RSS

Menyulam Langit

Satu-persatu,

mulai kusulam langit demi langit …

 

21 November 2011

Memang kamu bisa menulis? Lulusan D3 yang tidak ada hubungannya dengan dunia tulis-menulis memang bisa?!” tanya ‘ragu’ yang tiba-tiba menyelinap dalam hati.

Mendapat pertanyaan begitu, aku hanya mampu tersenyum pahit. Perlahan, kujatuhkan kedua mata sipitku pada hamparan awan di atas sana. Pada awan-awan yang menggantung, pada sinar mentari yang kian tertutupi kelabu, juga pada rinai hujan yang mulai menggelayut mesra di antara dedaunan.

Read the rest of this entry »

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on January 6, 2012 in Diary Hati

 

Layang-layang

“Sadarilah.,

layang-layang bisa terbang tinggi karena melawan angin,

bukan terbang mengikuti angin.”

22 Oktober 2011

Sore ini, kala awan yang berarak menari-nari menutupi matahari, secara tidak sengaja saya terseret jauh oleh angin masa lalu. Pikiran saya tiba-tiba mengembara mencari secuil kenangan yang sempat memudar di sudut hati. Tentang sebuah kesenangan, suka cita, dan rasa kanak-kanak yang membuat saya tersenyum tipis.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on January 6, 2012 in Diary Hati

 

Jilbab Darah Pertama Saya

Kalau kamu masih pake jilbab, Mamah mau bunuh diri aja!” ancam Mamah disertai isak tangis yang mulai membuncah.

Mendengar Mamah berkata begitu saya hanya mampu tertegun. Tak menyangka bahwa kata-kata penuh amarah tersebut akan dengan mudah terlontar begitu saja dari bibir hangat Mamah saya. Kali ini Mamah tidak main-main. Saya yakin itu! Terlihat dari nadanya yang geram.

Seketika, seolah tersihir keadaan Mamah yang mulai membuat saya khawatir, lekuk-lekuk hati saya ikut-ikutan banjir. Ya, lelehan demi lelehan bola salju mulai jatuh dari kedua mata sipit saya. Seraya bersimpuh meminta maaf, saya mencoba menenangkan Mamah,

Iya Mah, Nana ga akan pake Jilbab.”

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on December 17, 2011 in Diary Hati